Kamis, 08 Oktober 2009

waduk gajah mungkur wonogiri





Waduk Gajah Mungkur



Waduk Gajah Mungkur terletak 3 KM di selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Perairan danau buatan ini dibuat dengan membendung sungai terpanjang di pulau Jawa yaitu sungai Bengawan Solo.Mulai dibangun di akhir tahun 70-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah seluas kurang lebih 8800 ha di 7 kecamatan bisa mengairi sawah seluas 23600 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. Selain untuk memasok air minum Kota Wonogiri juga menghasilkan listrik dari PLTA sebesar 12,4 MegaWatt. Untuk membangun waduk ini pemerintah memindahkan penduduk yang tergusur perairan waduk dengan transmigrasi Bedhol Deso ke Sitiung, wilayah Provinsi Lampung.
Waduk Gajah Mungkur juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah. Di sini tersedia kapal boat untuk mengelilingi perairan, juga sebagai tempat memancing. Selain itu dapat pula menikmati olah raga layang gantung (Gantole). Terdapat juga taman rekreasi “Sendang” yang terletak 6 km arah selatan Kota Wonogiri.
Waduk ini direncanakan bisa berumur sampai 100 tahun. Namun sampai tahun 2007 ini semakin kelihatan begitu tingginya endapan lumpur membuat sangsi apakah umurnya bisa 100 tahun. Pada akhir tahun 2006 saat kemarau permukaan waduk menurun sehingga menjadi jalan yang menghubungkan kota kecamatan Eromoko dengan Baturetno. Ini disebabkan pengelolaan hutan sabuk hijau yang tidak benar. Sejak krisis moneter mengguncang negeri ini pencurian / penebangan pohon akasia di sekitar genangan air tak terkendali lagi.
Kondisi wadukpun sekarang sudah sudah mengkhawatirkan, apalagi disaat musim penghujan. Pengalaman tahun pada awal tahun 2007 lalu luapan air Waduk Gajah Mungkur telah menggenangi hampir seluruh wilayah kota solo dan wilayah-wilayah yang dilewati sungai ini, mulai dari Sukoharjo, Solo, Sragen, dan sampai ke Jawa Timur. Menurut penuturan penjaga pintu air Waduk Gajah Mungkur, luapan air pada saat itu memang sudah tidak bisa dihindari lagi, kalau pintu air tetap tidak dibuka maka kalau pintu air tidak kuat menahan luapan air yang semakin banyak dan semakin tinggi dikhawatirkan akan jebol dan jika itu terjadi maka seluruh wilayah kota Solo akan tergenang. Jadi pada waktu itu, pemerintah Kabupaten Wonogiri tidak mau ambil resiko, maka pintu air tersebut dibuka. Dan akhirnyapun Solo masih saja tergenang walaupun tidak semua tapi genangan air cukup luas dan menimbulkan beberapa infrastuktur seperti jalan dan jembatan yang dilewati sungai raksasa dipulau jawa ini rusak.
Demikian artikel yang dapat penulis persembahkan semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan dalam penyusunan kalimat maupun tampilan blog ini. agar bisa bermanfaat bagi kita semua.